Jumat, 03 Desember 2010

Balonku Ada Lima

Dudi ingin sekali memiliki balon warna-warni seperti yang baru saja dibeli Moli, temannya. Saat penjual balon gas tiba di tempat Dudi biasa bermain, Dudi hanya bisa menatap kagum pada bebalon yang menggelembung, ringan. Jemarinya yang mungil mencoba menyentuh permukaan balon yang licin. Terasa sangat menggemaskan.
            Aku ingin membeli balon yang berwarna kuning, warna merah juga, hijau juga, tapi aku lebih ingin membeli balon yang berwarna biru, agar ketika balonnya aku lepas ke angkasa, balon itu bisa sewarna dengan langit cerah. Kata Dudi dalam hati.
            Moli, yang baru saja membeli balon berwarna hijau nampak sedang memamerkan balonnya di hadapan Dudi.
            “Dengan mengunakan benang yang biasa aku pakai untuk menerbangkan layang-layang, aku bisa menerbangkan balon ini melebihi tinggi pohon kelapa. Kalau talinya putus dan aku kehilangan balonku, aku tinggal bilang saja pada ibu,  pasti aku bisa beli lagi balon gas yang baru,” kata Moli seraya beranjak meninggalkan Dudi yang masih terpaku di samping penjual balon warna-warni.
            Setelah Moli berada cukup jauh darinya, Dudi mengambil kerikil yang banyak bertebaran di bawah kaki. Ia lemparkan kerikil itu ke arah balon gas milik Moli. Tepat mengenai sasaran. Balon meledak. Moli berteriak, menangis. Dudi berlari meninggalkan tempat itu.
                                        ***

            Di rumah, ia temui ibunya yang sedang memasak sayur kangkung, kedua adiknya duduk di sebelah ibunya dengan memegang piring kaleng.
            Ibu, aku ingin beli balon gas warna-warni kata Dudi dalam hati, ia tidak berani mengutarakan keinginannya.
            Setelah sayur kangkung yang sudah ditunggu adik-adiknya matang, Dudi berlari ke luar, sayur kangkung yang dimasak ibunya tidak akan cukup mengenyangkan perut mereka, keberadaannya di rumah hanya akan membuat adik-adiknya merasa lapar.
            Dudi  berlari menuju rumah tetangganya, mengorek-ngorek sesuatu di tong sampah. Meskipun rumah tetangganya tidak jauh beda dengan rumahnya yang sempit, tapi tiap malam tetangganya itu sering menerima tamu laki-laki gagah dari kota, Dudi berharap bisa menemukan sesuatu untuk ia makan di sana.
            Balon…kata Dudi, jemarinya menemukan sesuatu yang serupa balon di tempat sampah tetangganya, warna-warni dan beraroma buah. Dudi pun mencoba meniup benda berlendir itu, hingga menjadi sebuah balon yang unik, jauh lebih bagus dari balon yang di beli Moli. Jumlahnya lima.
            Kini Dudi mempunyai lima buah balon warna-warni seperti yang ia ingini. Ia berikan dua buah balon kepada adiknya, sisanya ia pakai bermain sendiri.

            Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya..

cianjur 2010

2 komentar:

ceritaku mengatakan...

aku komen di sini aja ya... seperti yang sudah-sudah, tulisanmu selalu keren ^_^
tenang, mengalir meskipun banyak bgt luka terselip. like tihis. soulnya juga `aneh`

Ocehan Rumput Liar mengatakan...

Terimakasih atas komentarnya ya, sangat membangun. Tulisan di blogmu pun keren banget :)

Posting Komentar