Jumat, 19 Agustus 2011

Resep Penenang Hati Yang Luka

1.Sekali sehari duduklah di depan cermin
2.Tataplah ke kedalaman matamu
3.Dengarkan denyut jantungmu
4.Tenangkan diri
5.Tunggulah setetes airmata jatuh
6.Ulangi selama tujuh hari

Perhatian:
Setelah selesai jangan lupa tersenyum pada dirimu

sumber: Rehat hati 2, Nukila amal



Dari pementasan puisi Audry juliane

Sepertinya aku merasakan kehadiran Alm. Ws. Rendra di ruangan ini

Aku melihat ranting yang rebah. Daun pisang. Hijau. Terbang di atas hitam. Ada sampah di tempatnya yang begitu indah. Menguarkan aroma sepi. Sudah terlelapkah mereka? Jika memang iya, kenapa aku tidak mendengar dengkurnya? Anak-anak muda yang berada di sekelilingku pun juga tidak mendengar dengkurnya.

Yang aku dengar hanya kidung, seseorang, bukan, tapi beberapa orang, melantunkan bait-bait puisi. Meskipun di luar bulan sedang sabit, namun di ruangan ini aku melihat purnama. Bukan hanya melihat, namun mendengar dan merasakan.

Purnama itu terlantun begitu lembut, nyaris kapas, tapi kenapa aku dibuatnya  menangis?

sajak bulan purnama-Ws Rendra

Bulan terbit dari lautan.
Rambutnya yang tergerai ia kibaskan.
Dan menjelang malam,
wajahnya yang bundar,
menyinari gubug-gubug kaum gelandangan kota Jakarta.

Langit sangat cerah.
Para pencuri bermain gitar.
dan kaum pelacur naik penghasilannya.
Malam yang permai anugerah bagi sopir taksi.
Pertanda nasib baik bagi tukang kopi di kaki lima.

Bulan purnama duduk di sanggul babu.
Dan cahayanya yang kemilau membuat tuannya gemetaran.

“kemari, kamu !” kata tuannya
"Tidak, tuan, aku takut nyonya!"
Karena sudah penasaran
oleh cahaya rembulan,
maka tuannya bertindak masuk dapur dan langsung menerkamnya

Bulan purnama raya masuk ke perut babu.
Lalu naik ke ubun-ubun menjadi mimpi yang gemilang.
Menjelang pukul dua,
rembulan turun di jalan raya,
dengan rok satin putih,
dan parfum yang tajam baunya.
Ia disambar petugas keamanan,
lalu disuguhkan pada tamu negarayang haus akan hiburan.

Yogya, 22 Oktober 1976
Potret Pembangunan dalam Puisi

Kemudian aku melihat seorang lelaki membacakan sajak mengenai ronggeng. Genit dan menggoda. Tangan, mata, dan barangkali juga jiwa, menari. Di belakang, bebayang tubuhnya pun menari.

Setelah itu, seseorang membacakan sajak tangan, lembut, haru.

Airmataku nyaris benar-benar tumpah manakala seseorang, di depanku, membacakan sajak burung kondor. Sepanjang ia melantunkan sajak, atau mantra? Tubuhku merinding, dalam kesendirian aku hayati keindahan.

Batu-batu melingkar di lantai. Mereka mendengar. Mereka tidak tidur. Batu-batu bercahaya.

sepertinya aku merasakan kehadiran Alm. Ws. Rendra di ruangan ini

Di Gedung Dewan Kesenian Cianjur, 2010


Negeri Hujan

Buku Negeri Hujan ini membuat Pira Sudham dinominasikan memperoleh hadiah Nobel Sastra pada 1990---yang akhirnya di anugerahkan kepada penyair dan kritikus Meksiko, Octavio Paz.

Beberapa hari yang lalu saya baru menyelesaikan buku karya sastrawan Thailand, Pira Sudham. Buku pertama yang saya tamatkan bulan ini, mengalahkan beberapa buku lain yang belum sempat saya baca, yang bahkan saya beli hampir dua tahun yang lalu! (Rumah tangga yang bahagia karya Leo tolstoy yang saya beli lebaran 2009  sampai sekarang belum saya selesaikan)

Judulnya Negeri Hujan, Buku ini membuat Pira Sudham dinominasikan memperoleh hadiah Nobel Sastra pada 1990---yang
akhirnya dianugerahkan kepada penyair dan kritikus Meksiko, Octavio Paz. Yang membuat saya terkesan bukan karena buku ini masuk nominasi Nobel nya, melainkan karena cerita dan cara tuturnya yang indah. Membacanya seperti menikmati sensasi manakala saya membaca novel Laskar pelangi, Sang Pemimpi, dan novel Pramudya ananta toer, Bumi Manusia. Membuat saya merenung, menyadari  realita yang terjadi di negeri ini dan manusianya, termasuk akar rumputnya, seperti, gelisah atas ketidakadilan, kemiskinan yang memerangkap penduduk, kepala desa yang korup dan tidak peduli pada pendidikan,  mimpi seorang anak petani, yang dapat kuliah ke luar negeri atas usaha dan kerja kerasnya, untuk kemudian kembali ke tanah kelahirannya.

Di google tersedia petikan novelnya, di:

http://books.google.co.id/books?id=btJNQy4gXvcC&pg=PR4&lpg=PR4&dq=negeri+hujan+pira+sudham&source=bl&ots=vsVXTis1WP&sig=n2UGQlKbq7i-zO1MLOj1HnZ4_9g&hl=id&ei=quLLTbvmIszLrQfz4JyKBA&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=10&ved=0CE0Q6AEwCQ#v=onepage&q&f=false

Atau, kemarin saya lihat di salah satu toko di sukabumi, masih ada satu buah lagi, harganya 24 ribu.

Berikut paragraf pertama noivel tersebut:

Di Tahun Kuda, Boonliang Surin melahirkan anaknya yang keenam. Seorang laki-laki. Kemudian, menyusul kelahiran anak lelaki itu, hujan awal musim penghujan memberikan lagi kehidupan untuk desa Napo. Musim panas berakhir. Musim hujan telah mulai. Hujan turun siangdan malam, tumpah ruah dan memberi harapan. Seperti kebanyakan penduduk desa itu, dengan penuh harap dan perasaan gembira keluarag Surin memandang hamparan sawah sekeliling, menyenangkan dan bermakna. Musim bercocok tanam padi baru tiba.

Sabtu, 04 Juni 2011

Puisiku Di Jurnal Puisi Amper

"Lukislah apa yang ada di hadapanmu" tutur seorang pelukis, ketika aku dan kang Yusuf gigan bertamu ke rumahnya. Dan malam itu, ketika aku ingin sekali menulis sesuatu,  aku pun menulis apa yang benar-benar ada di depan mata; seekor kucing yang tiap malam tidur di kamarku, menyebabkan tikus yang biasa hilir mudik di tempat tidur tidak berani mendekat.

Ketika menulis itu, aku teringat pada aktivitasku dulu, ketika masih sering berjalan malam-malam di tengah kota, orang lain menyebutku pedagang asongan, namun aku lebih senang berjalan menyusuri gang-gang gelap, sepi, kotor ketimbang lalu lalang di keramaian mencari pembeli, melihat orang-orang yang tidur berderet di mushola pasar, di lapak pakaian bekas, di trotoar. Aku pun sering tidur di pasar yang sudah sepi tersebut, ketika bangun, rokok dan barang-barang dagangannku sudah hilang di curi, atau paling mujur, pernah juga di pukuli tiga orang preman karena di anggap mengganggu tidur mereka.

Aku suka dengan dini hari di kota Sukabumi, lengang, temaram.

Pengalaman itulah yang mendasari aku untuk menulis puisi ini, betapa nikmatnya udara malam, tidak seperti sekarang, sebagai buruh aku tidak kuat begadang, sebab aktivitasku sekarang lebih banyak di waktu siang, dan malam hari aku harus tidur, kalau tidak, besoknya bisa kena marah bos karena mengantuk.

Merupakan sebuah keajaiban jika ada satu dua karyaku yang di muat di sebuah jurnal, atau kelak di muat  di koran, buku, atau majalah misalnya.

Terimakasih yang tidak terhingga kepada semua sahabat yang terus mendorong saya untuk berkarya di tengah segala keterbatasan yang ada :)

Terimakasih juga kepada Kang Faisal syahreza yang sudah mencantumkan satu bait di puisi Kucing ini pada cerpennya yang berjudul Kucing Keempat, di muat di lampung post. Dapat di baca di:

http://www.sriti.com/story_view.php?key=3828

Salam hangat

Kucing 1

Kucing yang tiap malam tidur bersamaku
Di atas lantai tanpa tikar
Tidak akan terjaga sebelum jemariku mengelus kepalanya.
Seperti halnya diriku, kucing itu senang sekali tidur
Seolah ruhnya sedang tamasya dan lupa pulang ke raga
Padahal kita sama-sama memejamkan mata selepas isya.
Tidak ada dengkur, hanya perutnya turun naik dengan teratur.

Aku adalah tukang tidur
Di manapun, tanpa bantal dan kasur, aku bisa mendengkur
Apabila tidur malamku kurang,
Siang hari jalanan akan nampak lebih panjang
Aku akan sangat mengantuk,
Putraku tewas tertabrak truk karena supirnya mengantuk

Tapi malam ini trotoar tempat kami biasa terlelap
Dipenuhi orang-orang yang entah berasal darimana.
Tidur mereka seperti tidur abadi barisan prajurit.
Khusuk sekali.
Aku dan kucing pun berjalan menapaki debu
Mencari tempat lain untuk terlelap
Sebelum angin malam terasa lebih dingin dan jahat.

Cianjur 2010

Kucing 2

Dengan senang hati kubagi sebungkus nasi
Yang aku peroleh dari tempat sampah
Dengan seekor kucing, yang kupercaya
Adalah titisan putraku tercinta.
Aku mencintainya, sebagaimana aku mencintai hujan
Yang turun perlahan
Basahi luka yang tertoreh tadi pagi
Saat pemilik kios menghardik dan mengusirku

Sebagaimana pengembara
Kami saling menjaga
Kadang, tatkala tidak kudapati selembar kardus pun
Untuk melindungi tubuh dari hawa dingin
Kucing menyelimuti kulitku dengan bulu-bulu lembutnya
Matanya yang menyala adalah lampu senter
Manakala kami susuri lorong-lorong gelap kota
Menakuti gerombolan tikus yang senang mengendus
Dengan moncongnya yang beraroma got

Aku pernah mendengar riwayat
Jika kucing merupakan binatang kesayangan nabi
Menyayanginya berarti mencintai nabi
Maka aku pun bersahabat dengan semua kucing di kota ini
Agar bisa dekat dengan nabi.

Cianjur 2010

Biodata:

Khoer Jurzani, lahir di Bogor 22 maret 1987, adalah lulusan Kejar paket C atau setara SMA PKBM ummi kulsum kota sukabumi, sempat bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) sukabumi sebelum hijrah ke cianjur, dan aktif di FLP Cianjur serta Komunitas sastra Cianjur. karya tulisnya yang berjudul, "Pendidikan luar sekolah sebagai salah satu pilar pembangunan kota sukabumi kedepan", memperoleh juara kedua dalam lomba karya ilmiah tingkat umum.


Jurnal Puisi amper
Pemimpin Redaksi : Alek Subairi
Redaktur Pelaksana : A muttaqin
Dewan Redaksi : Mardi Luhung, Timur Budi Raja, M Fauzi
Redaksi : salamet Wahedi, Umar Fauzi Ballah,
Dody Kristianto, Choirul Wadud
Redaktur Senior : KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Akhudiat
Publikasi : Tzalis Abdul Azis, Ashif Hasanuddin
Sekretaris : Putri Mayasari
ISBN : 978 6028567053
Penerbit : amper media
Penata Letak : Alek Subairi
Desain Sampul : A Muttaqin
Gambar Sampul : “Lelaki Bersayap”
karya Harsono Sapuan
Alamat Redaksi: Babatan III-D, No. 2D. Wiyung, Surabaya
Telp: 085648817032 E-mail: amperpuisi@yahoo.com
Cetakan Pertama: Mei, 2011


Redaksi menerima kiriman naskah puisi, manuskrip puisi yang belum diterbitkan dan esai puisi. Tema esai puisi edisi ke 2 adalah “Membaca Puisi Religi”. Apabila ada perubahan tema, redaksi akan mengumumkan melalui surat terbuka. Kirimkan naskah ke E-mail redaksi: amperpuisi@yahoo.com


UntukPemesanan Hubungi:Putri Mayasari (085648817032)Ashif Hasanuddin (03170964667)Tzalis Abdul Asis 081230239112)
Harga 35.000
(Luar Surabaya tambah ongkos kirim)

Daftar Isi Jurnal Puisi amper edisi 01
Di Bawah Gamelan Gatoloco, Jalan ke Sumber
Silaturrahmi Puisi
bertemu satu kumpulan v

PUISI
Afrizal malna 1
Di Bawah Gamelan Gatoloco
Tamu dari Seorang Waktu
Gloomy Sunday

Alek Subairi 5
Labang
Kembang Pitutur

Asep Sambodja 12
Dokter Lukman yang Kukenal
Kepada Zhu Yong Xia
Tikus Ketua

Aslan Abidin 17
Mongkey Forest
Kota ini, Telah Diserbu Pembenci

Beni Setia 21
Celana Jambon
Amnesia Ironika

Bode Riswandi 23
Dari Catatan Harian Nadja Halilbegovich1 Juni 1992
Dari Catatan Harian Nadja Halilbegovich 26 Mei 1995

Budhi Setyawan 25
Kabut di Kotamu
Petasan

Choirul Wadud 27
Rumah dan Kebun Buah
Daun Nangka Menangkup

Dahta Gautama 30
Kasmaran Umur
Duka itu Tersibak Oleh Gorden
Ketakutan Kawan Akan Malaikat Maut

Dian Hartati 33
Patio
Pergola

Dody Kristianto 36
Tembang
Status

Esha Tegar Putra 39
Di Batang-Batang Pisang
Di Teater

Fahrudin Nasrulloh 45
Wiring Kuning
Hikayat Iblis Sumur Upas

Faisal Imron 49
Kepada Yehuda Amichai
Dongeng
Sebelum Kau Datang

gendut pujiyanto 64
Pada kerinduan
Menziarahi Ayah

Hanna Fransisca 66
Penyeberang Jembatan
Kesalahan Pohon Pepaya

Indra Tjahyadi 73
Sembilu
Bumi Hitam

John Kuan 75
Pagi ini Matahari Tidak Jadi Terbit
Selamat Terbang Bersama Kami!
Aku Memilih Wislawa Szymborska Memilih

Khoer Jurzani 80
Kucing 1
Kucing 2

Lennon Machali 82
Penggali Sumur
Malam di antara Tambatan Perahu

M Faizi 84
Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan
Malam Kedua Lebaran
Jemputan

Mahwi Air Tawar 89
Hari Jahanam
Pengantin Tandu

Mashuri 91
Peta Hati
Rol
Amsal Gulma

Mugya S Santosa 96
Kelopak Kemboja
Ulat
Tamasya di Sebuah Dam

Oka Rusmini 99
Misa
Akasia
Yugek

Pringadi Abdi Surya 106
Sonet Kenangan, 2
Meninggalkan Palembang

Putri Hatiningsih 108
Dua Pasang Sepatu
Pada Taman yang Tak Jadi

Ragil Supriyatno Samid 111
Malang, Surabaya,
Malang-Surabaya PP
Song for Rendezvous Dream with Ratna

Ramon Damora 113
Penyelingkuh
Muaramahat

Ririe Rengganis 115
Pasar Kembang
Savitri

Romi Zarman 118
Perulangan
Kelelawar
Di Bandara

S Yoga 121
Kerang
Amongraga
Muara

Saiful Hadjar 125
Pengorbanan
Dimensi Samudra

Syarifuddin Dea 127
Tembang Darah Bulan Agustus
Berteduh di Pengungsianmu
Siapa Berani Menyeteru

Tengsoe Tjahjono 131
Pedro, Katakan Bagaimana Rasanya Menuggu
Kwatrin Ibunda
Pusar

Timur Budi Raja 136
Pekarangan
Jumo

Toni Lesmana 139
Kau
Menulis Namamu

W Haryanto 141
Apparition of Face and Fruit dish on a Beach
Januari, dari Sebuah Perairan

Yayan R Triyansyah 147
Tusuk Sate
Pada Suatu Pendakian

Yudi Setiawan 149
Rumah itu Untuk Semua Orang
Taman sari

Pengantar Manuskrip 155
“Keluarga Besar Jagat Puisi”, Mardi Luhung

Manuskrip Puisi Akhudiat 157-178
Doa Kecil
1000 km Cari Cinta
Ayat Air
Pasar
Jalan Babi
Aho, New York, 1976
Kopi Pagi & Tundra
Ziarah Laut
Jalan ke Sumber
Keputran
Gerbong Miring (Revisited)
Istighfar di Lorong Maktab

Esai
Ahmad Kekal Hamdani 181
Sungai dan Ladang yang Menikah

Ahmad Muhakkam el-Zein 186
Puisi, Keindahan dan Kegelapan

Bandung Mawardi 191
Jerat dan Sekarat

Hikmat Gumelar 195
Uluran Tangan

Biodata 197

Sabtu, 26 Maret 2011

Menulis Adalah Menangis




-sepucuk surat untuk adik.

:Rini Apriyani

Adik, tangis akan berhenti manakala pelupuk kita sudah tidak dapat keluarkan air mata, tapi jeritan  yang tergores di atas kertas tidak akan bisa reda.
Kakak hanya ingin merekonstruksi hari kemarin, karena kakak percaya apa yang kita alami saat ini tidak lepas dari insiden yang terjadi di masa lampau. Kakak hanya mencatat, semoga ada sedikit pelajaran  yang bisa kau ambil. Setelah dirimu membaca surat ini, kita masih tetap saudara, masih tetap satu keluarga.

  Jika menulis adalah tangis, rumah kita pasti sudah tenggelam karenanya.

   Kita beruntung memiliki bapak seorang pemulung, ya sebelum ia memiliki gudang penampungan sendiri seperti sekarang, karena profesi bapaklah, setiap hari ada saja bahan bacaan gratis untuk kita; majalah bekas, buku bekas. Sejak kecil kita sudah akrab dengan Si kuncung, Bobo, Si kembar O Sullivan, Garfield, Donal bebek. Sebab kita tidak memiliki banyak mainan seperti anak-anak lain, mainan kita adalah apa yang ada di dalam imaji kita, gambar-gambar berbicara, tulisan-tulisan mengajak kita menari.
                Ketika bapak mulai sibuk dengan pekerjaan dan ibu sering membentak serta menyembunyikan buku-buku bacaan, entah kenapa ibu tidak suka sekali melihatku membaca seharian, aku pun mulai menulis. Tulisan pertamaku adalah puisi, mengenai ibu tiri.
                Kakak tidak yakin apakah kakak bisa bertahan hidup sampai sekarang kalau Pak Cevi, Guru Madrasah Ibtidaiyah, tidak meminjami kakak novel dengan judul Dokter Widi, sebuah buku berlabel Milik Departeman P dan k, Tidak Di perjualbelikan itu adalah buku pertama yang membuat kakak menangis. Sejak saat itu Pak Cevi selalu meminjami kakak buku-buku cerita. Kakak masih ingat, waktu kelas enam MI, kakak mulai mencoba membuat cerita bersambung, yang tiap hari kakak bagikan ke teman-teman sekelas.
                Apakah kamu percaya, jika ada sebuah sekolah paling aneh di dunia, tidak ada guru, tidak ada murid, yang ada, rerumput kering dan bangunan kusam, seorang laki-laki kecil tiap hari berada di dalamnya, kesepian. Guru, murid, hanya berdatangan pada saat menjelang ujian. Tidak ada pelajaran. Tidak ada ilmu yang di dapatkan.
                Engkau beruntung bisa belajar di SMP negeri Dik, tidak berada di Madrasah Tsanawiyah di dasar jurang itu. Hingga untuk meyakinkan bapak dan ibu bahwa aku benar-benar berangkat ke sekolah, tiap hari aku pergi ke Perpustakaan Umum kota, sampai waktu, di mana sekolah lain usai dan murid-muridnya pulang.
                Di  Perpustakaan umum itulah kakak mengenal puisi-puisi Acep zamzam noor, cerpen Joni ariadinata, novel Dewi Lestari, Asma nadia, Hamka, Chairil anwar, bahkan Fredy siswanto! Waktu kelas Tiga Mts. Itu kakak menulis puisi, judulnya Khusnul Khotimah, yang tidak jadi kakak kirim ke Mading Masjid agung Kota Sukabumi karena Madingnya tidak pernah terbit lagi, lalu kakak simpan baik-baik di buku harian.
Khusnul Khotimah

Tertidur,
tidurlah ia
pulas mimpi ruh jiwa
selepas sembahyang malam
suci abadi

Ah, betapa nikmat
tubuh terbaring di surau kecil
tiada menghirau irama dunia

Selepas sembahyang malam ia
pulas mimpi ruh jiwa
suci abadi

Tergolek ia di sajadah lusuh
betapa nikmat
tiada menghirau lalu lalang orang bersujud
tiada pula seonggok hati berani menjamah

Melayang-layanglah ia
di apit dua malaikat
dengan tiada menghirau irama dunia

sukabumi, 2003
                Kakak tidak pernah mengira, sejak Pak Cevi meminjami novel Dokter Widi, kata-kata terus mengikuti ke mana pun langkah kaki pergi. Bahkan ketika kakak lulus dari sekolah aneh itu dan harus pergi dari rumah lalu tinggal di rumah nenek.
                Apakah engkau tahu, saat anak-anak lain meneruskan pendidikan ke SMA, kakakmu jualan asongan di pasar? Ya engkau tahu. Di mana pun aku selalu menulis dik, di sudut-sudut gang kumuh, di antara gemuruh kendaraan dan debu beterbangan, kakak menulis di atas kertas timah pembungkus rokok, yang isinya sudah habis di jual. Kadang kakak menulis di atas kayu milik penjual ketupat sayur, kadang di emperan toko, kadang di rel kereta api.  Tapi kakak tetap yakin suatu saat bisa bertemu Acep zamzam noor, bisa memiliki trofi, bisa sekolah lagi.

Ah tahukah kamu dik, berkat keyakinan itu satu-satu mimpi kakak terwujud. Kakak bisa sekolah di SMA terbuka, puisi yang tidak jadi kakak kirim ke Mading itu jadi juara pertama lomba membuat puisi antar pelajar se-kota Sukabumi, meski trofinya tidak pernah bisa hadir ke rumah, waktu itu kakak merasa tidak memiliki rumah, trofi itu kakak titipkan ke sekolah. Kakak pun bersyukur dapat mengenal sahabat-sahabat yang baik di Forum Lingkar Pena dan Komunitas Sastra Cianjur. Ya, di cianjur ini kakak dapat bersua dengan Acep zamzam noor, penyair yang dulu hanya kakak baca sajak-sajaknya di buku!
               
Pada mulanya adalah tangis

Ah Dik, kakak baru kemarin belajar internet, mengetik di komputer, menulis di blog dan catatan facebook, sesekali mengikuti berbagai lomba menulis, sesekali mengirim karya ke media cetak, meski tidak pernah di muat, sebelumnya kakak banyak menulis di buku harian, kakak memang tidak seberuntung dirimu yang banyak belajar berbagai hal di sekolah! Hal yang paling membuat bangga kakak adalah ketika Ibu Hanna fransiska menumumkan pemenang lomba menulis puisi tentang ibu, di mana nama kakak muncul sebagai 10 nomine, berdampingan dengan penyair yang kakak kagumi selama ini, ada M Aan Mansyur, faisal syahreza, Sunlie Thomas Alexander, Pringadi abdi surya, Dian aza, isbedy setiawan zs, dua jurinya antara lain, Acep zamzam noor dan Joni ariadinata.

Tapi adik, tidak semua orang menyukai apa yang kita tulis, airmata di atas kertas bisa membuat orang lain berang, seseorang bisa di culik, di penjara, di perkosa, di bunuh, di racun hanya karena apa yang tertuang dari pikirannya.  Seperti ibu tiri kakak, ibumu, yang menemukan buku harian berisi curahan hati kakak, kemudian dengan tulisan itu beliau mengusir kakak dari rumah. Itu terjadi selepas kakak lulus Madrasah Tsanawiyah.
                Adik, engkau saudari terbaikku. Meski kita tidak lahir dari satu rahim, hanya bapak kita yang sama, namun bagaimana pun kakakmu ini sangat menyayangimu.

Jika menulis adalah bulir-bulir tangis, barangkali sekarang ia sudah menganak sungai, terus mengalir ke tempat jauh.

Cianjur 2011

Senin, 24 Januari 2011

Lelaki Rumput

Perlahan Rumput membuka matanya, menatap lurus ke langit-langit, beradu pandang dengan kertas-kertas yang bergelantungan, kertas-kertas berisi puisi-puisi pujangga besar yang ia gunting dari surat kabar kemudian ia gantung dengan sehelai benang; Garzia lorca, Whitman, Rilke, Neruda, Rendra, Widji Thukul, seolah sedang mengedipkan mata, mengucapkan salam selamat pagi padanya.

\\ Di sini, panas kian meninggi, sunyiku menguat dan bergelora\ sunyi dengan putaran yang menyerupai gerakan tangan lelaki tenggelam// (Pablo Neruda-bersandar pada rembang petang)

Semuanya masih sama seperti sebelum ia terjaga; Koran-koran bekas, bantal, buku, majalah, bungkus permen, sachet losion anti nyamuk, pensil, pakaian, topi, gelas, push pins, botol larutan penyegar, gelang-gelang… berserakan tak karuan di atas tempat tidurnya, menjadi seprai temani ia lelap.  Di sudut tempat tidur, sebatang lilin masih berdiri beralaskan piring, ujungnya terlihat menghitam.
            Di atas tempat tidur yang berantakan itulah semalam Rumput merayakan hari jadinya yang ke 24, seorang diri, tanpa kue, balon dan pita-pita. Hanya sebatang lilin itu, yang ia nyalakan menjelang jarum jam menyentuh angka dua belas, lalu ia pun meniup sebatang lilin setelah sebelumnya merapalkan doa-doa dalam hati.
            Ia tidak tahu apa yang berbeda dari Rumput yang berusia 24 dengan Rumput yang sebelumnya. Rasanya semua masih sama; kamar tidurnya masih berantakan, jiwanya tetap kenakak-kanakan, yang paling penting, semakin bertambahnya usia, ia semakin kesepian.
            Kemana teman-temanku pergi? Kenapa tidak ada seorang pun dari mereka yang ingat tanggal kelahiranku? Bisik Rumput dalam hati.
            Teman-teman lama sudah hilang entah ke mana, Rumput tidak bisa menemukan jejak mereka. Teman-teman baru begitu sulit di peroleh. Lagi pula semua orang sudah sangat sibuk, tidak mempunyai waktu lagi untuk sebatang Rumput liar yang diam-diam menimbun angan, kenangan, kesepian.
            Satu atau dua teman kadang berkunjung ke rumahnya, ada juga satu atau dua teman yang mengirim pesan singkat berisi basa-basi,  satu atau dua teman juga ada yang suka mengomentari sattusnya di dunia maya, bahkan, ada juga satu atau dua teman yang sekonyong-konyong masuk ke alam bawah sadarnya, memporak-porandakan mimpi indahnya, mengejar-ngejarnya, membuatnya terperosok ke dasar ngarai, terjerembab di atas aspal, berputar-putar dalam labirin, membuat Rumput nyaris mati di mimpinya sendiri!
            Sebenarnya Rumput hanya kangen sama teman-temannya..
            Rumput bangkit. Hari masih gelap. Matanya belum mampu melihat keadaan di luar jendela. Hanya aroma apak dari pakaian dan celananya yang sudah lebih tujuh hari tidak di cuci, tercium sangat pekat di hidung. Rumput berdiri, berjalan ke arah dinding. Di sana menempel kenangannya bersama teman-temannya. Waktu liburan ke kebun binatang, photo saat ke pantai, saat naik gunung, semua terabadikan.
            Satu-satu wajah di photo yang menempel di dinding seolah berbicara padanya, mengucapkan selamat ulang tahun. Arman, si bocah petualang, di photo Nampak sedang menggendong ransel besar pada pundaknya, tertawa padanya, Arman, aku kangen naik gunung!!. Lalu Yusuf, temannya waktu SMP, yang dulu sering mengajarinya sepak bola, “Payah! Masa laki-laki tidak bisa main bola!” kata Yusuf pada Rumput dulu. Ada juga Abi, yang merasa jika Rumput adalah saudara kembarnya, karena sama-sama anak bungsu, sama-sama pendiam, berkulit sawo matang, tidak suka merokok, sama–sama tidak punya pacar! Beberapa orang temannya nampak melambaikan tangan padanya, memamerkan senyum lebar.
            Kalian yang terbaik, kata Rumput dalam hati.
            Rumput tidak pandai bergaul, ia sedikit sekali memiliki teman, karena itu wajar jika ia kesepian. Di tempat tinggalnya sekarang,  orang yang ia kenal hanya ibu pemilik warteg di depan rumah, beberapa tukang ojeg di belokan gang, dan tukang bakso langganananya.
            Ia tidak tahu siapa tetangganya, siapa nama mereka, apa kegiatan mereka. Jika tidak ada orang lain yang lebih dulu bertanya padanya, tidak mungkin Rumput akan bersuara. Penyebabnya mungkin adalah rasa rendah dirinya yang berlebihan karena Rumput pernah merasakan sebuah trauma pada persahabatan.
            Ceritanya, waktu itu Rumput memberanikan diri berkenalan dengan anak-anak di komplek,  belum satu hari masa perkenalan, Rumput sudah dipermalukan, katanya, ia harus memenuhi persyaratan terlebih dulu kalau mau bergabung dengan mereka, seperti, harus punya motor, berpenampilan rapi, sholeh, harus berpendidikan, harus punya rumah keren buat basecamp, punya tropi kebanggaan dan bla bla bla..penampilannya memang seperti seorang gembel, tapi bukankah ia tetap saja seorang manusia, yang sama makan nasi seperti mereka, ia pikir, mungkin orang-orang itu jadi sombong karena makanan yang mereka makan tiap harinya adalah  emas atau perak, atau besi!
            Rumput menghela napas, ia tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Semua temannya tidak seperti itu, semua temannya orang baik, menerima ia apa adanya, Rumput yang kadang aneh, usil, kampungan, bodoh. Semua temannya selalu menyemangati Rumput  bahwa ia mampu menjadi penulis hebat. Selalu menyempatkan waktu guna membaca tulisan-tulisannya yang tidak seberapa.
            Di usia 24 ini, mestinya aku sudah meraih penghargaan Khatulistiwa literary award, atau anugerah pena kencana, atau penghargaan dari IKAPI sebagai penulis terbaik atas karyanya yang monumental dan best seller! Batin Rumput. Akan tetapi, pada kenyataanya, satu puisi pun belum pernah ia kirim ke media massa, satu cerpen pun belum ia bukukan. Tiap hari hanya berkhayal, berangan.
            Ia tidak tahu apakah Tuhan sudah mempersiapkan satu buah kejutan untuknya atau tidak di hari esok. Ia berharap ada.
Teman-teman, kalian memiliki kejutankah buatku? Telpon kejutan, kue kejutan, doa kejutan? Rumput membayangkan, teman-temannya akan berseru begitu ia membuka pintu,    “SURPRISE!” lalu akan nada telur mentah mendarat di rambutnya, atau seember air membasahi badannya.  Ada Arman yang tiba-tiba mengajakanya mendaki gunung, ada yusuf yang tiba-tiba datang mengajaknya ke lapang, ada Abi yang tiba-tiba membawakannya buku bacaan…
            Teman-teman, kalian ke mana.. ? di sini ia sendiri. Sebatang kara.
            Rumput turun dari tempat tidur. Kakinya terasa sangat lemah begitu menginjak lantai. Ia tidak dapat menopang berat badannya sendiri. Dengan hati-hati pintu kamar ia buka, tidak ada siapa-siapa, langkahnya kaku, tungkai kakinya bergetar, batuknya terdengar.
            Kulit sawo matangnya menjadi kerat-kerut, wajahnya mengeriput. Udara pagi mengecat rambut di kepalanya menjadi berwarna putih. Dari arah pintu depan seorang perempuan berseru.
            “Kakek, ada tamu..” pintu depan terbuka, perempuan yang memanggilnya kakek menyilakan seseorang masuk.
“Rumput, my friend, apa kabarmu? “ suara itu, wajah itu, sepertinya ia mengenalnya. “Selamat ulang tahun, maaf baru sempat berkunjung, bagaimana kabar novel barumu? Kapan lounching? Oh iya, aku membawakan hadiah buatmu Rumput, ini, pena dan buku kecil, biar kamu tetap semangat nulis, ya sekarang pena dan buku sudah menjadi barang antik, aku mendapatinya waktu berkunjung ke museum.” Arman, ia Arman, teman Karib Rumput! Rambut di kepala Arman sudah sama-sama putih sepertinya, juga suaranya, tidak jernih seperti dulu.
Rumput meraih kado dari tangan Arman, ada tulisan indah terangkai di depannya, selamat ulang tahun, di usia 84 ini semoga bahagia selalu…
            Saat ini ia hanya ingin memeluk sahabatnya, untuk kejutan paling  indah di saat rembang petang datang.

                     Cianjur 2010

Jumat, 03 Desember 2010

Balonku Ada Lima

Dudi ingin sekali memiliki balon warna-warni seperti yang baru saja dibeli Moli, temannya. Saat penjual balon gas tiba di tempat Dudi biasa bermain, Dudi hanya bisa menatap kagum pada bebalon yang menggelembung, ringan. Jemarinya yang mungil mencoba menyentuh permukaan balon yang licin. Terasa sangat menggemaskan.
            Aku ingin membeli balon yang berwarna kuning, warna merah juga, hijau juga, tapi aku lebih ingin membeli balon yang berwarna biru, agar ketika balonnya aku lepas ke angkasa, balon itu bisa sewarna dengan langit cerah. Kata Dudi dalam hati.
            Moli, yang baru saja membeli balon berwarna hijau nampak sedang memamerkan balonnya di hadapan Dudi.
            “Dengan mengunakan benang yang biasa aku pakai untuk menerbangkan layang-layang, aku bisa menerbangkan balon ini melebihi tinggi pohon kelapa. Kalau talinya putus dan aku kehilangan balonku, aku tinggal bilang saja pada ibu,  pasti aku bisa beli lagi balon gas yang baru,” kata Moli seraya beranjak meninggalkan Dudi yang masih terpaku di samping penjual balon warna-warni.
            Setelah Moli berada cukup jauh darinya, Dudi mengambil kerikil yang banyak bertebaran di bawah kaki. Ia lemparkan kerikil itu ke arah balon gas milik Moli. Tepat mengenai sasaran. Balon meledak. Moli berteriak, menangis. Dudi berlari meninggalkan tempat itu.
                                        ***

            Di rumah, ia temui ibunya yang sedang memasak sayur kangkung, kedua adiknya duduk di sebelah ibunya dengan memegang piring kaleng.
            Ibu, aku ingin beli balon gas warna-warni kata Dudi dalam hati, ia tidak berani mengutarakan keinginannya.
            Setelah sayur kangkung yang sudah ditunggu adik-adiknya matang, Dudi berlari ke luar, sayur kangkung yang dimasak ibunya tidak akan cukup mengenyangkan perut mereka, keberadaannya di rumah hanya akan membuat adik-adiknya merasa lapar.
            Dudi  berlari menuju rumah tetangganya, mengorek-ngorek sesuatu di tong sampah. Meskipun rumah tetangganya tidak jauh beda dengan rumahnya yang sempit, tapi tiap malam tetangganya itu sering menerima tamu laki-laki gagah dari kota, Dudi berharap bisa menemukan sesuatu untuk ia makan di sana.
            Balon…kata Dudi, jemarinya menemukan sesuatu yang serupa balon di tempat sampah tetangganya, warna-warni dan beraroma buah. Dudi pun mencoba meniup benda berlendir itu, hingga menjadi sebuah balon yang unik, jauh lebih bagus dari balon yang di beli Moli. Jumlahnya lima.
            Kini Dudi mempunyai lima buah balon warna-warni seperti yang ia ingini. Ia berikan dua buah balon kepada adiknya, sisanya ia pakai bermain sendiri.

            Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya..

cianjur 2010