Sabtu, 26 Maret 2011

Menulis Adalah Menangis




-sepucuk surat untuk adik.

:Rini Apriyani

Adik, tangis akan berhenti manakala pelupuk kita sudah tidak dapat keluarkan air mata, tapi jeritan  yang tergores di atas kertas tidak akan bisa reda.
Kakak hanya ingin merekonstruksi hari kemarin, karena kakak percaya apa yang kita alami saat ini tidak lepas dari insiden yang terjadi di masa lampau. Kakak hanya mencatat, semoga ada sedikit pelajaran  yang bisa kau ambil. Setelah dirimu membaca surat ini, kita masih tetap saudara, masih tetap satu keluarga.

  Jika menulis adalah tangis, rumah kita pasti sudah tenggelam karenanya.

   Kita beruntung memiliki bapak seorang pemulung, ya sebelum ia memiliki gudang penampungan sendiri seperti sekarang, karena profesi bapaklah, setiap hari ada saja bahan bacaan gratis untuk kita; majalah bekas, buku bekas. Sejak kecil kita sudah akrab dengan Si kuncung, Bobo, Si kembar O Sullivan, Garfield, Donal bebek. Sebab kita tidak memiliki banyak mainan seperti anak-anak lain, mainan kita adalah apa yang ada di dalam imaji kita, gambar-gambar berbicara, tulisan-tulisan mengajak kita menari.
                Ketika bapak mulai sibuk dengan pekerjaan dan ibu sering membentak serta menyembunyikan buku-buku bacaan, entah kenapa ibu tidak suka sekali melihatku membaca seharian, aku pun mulai menulis. Tulisan pertamaku adalah puisi, mengenai ibu tiri.
                Kakak tidak yakin apakah kakak bisa bertahan hidup sampai sekarang kalau Pak Cevi, Guru Madrasah Ibtidaiyah, tidak meminjami kakak novel dengan judul Dokter Widi, sebuah buku berlabel Milik Departeman P dan k, Tidak Di perjualbelikan itu adalah buku pertama yang membuat kakak menangis. Sejak saat itu Pak Cevi selalu meminjami kakak buku-buku cerita. Kakak masih ingat, waktu kelas enam MI, kakak mulai mencoba membuat cerita bersambung, yang tiap hari kakak bagikan ke teman-teman sekelas.
                Apakah kamu percaya, jika ada sebuah sekolah paling aneh di dunia, tidak ada guru, tidak ada murid, yang ada, rerumput kering dan bangunan kusam, seorang laki-laki kecil tiap hari berada di dalamnya, kesepian. Guru, murid, hanya berdatangan pada saat menjelang ujian. Tidak ada pelajaran. Tidak ada ilmu yang di dapatkan.
                Engkau beruntung bisa belajar di SMP negeri Dik, tidak berada di Madrasah Tsanawiyah di dasar jurang itu. Hingga untuk meyakinkan bapak dan ibu bahwa aku benar-benar berangkat ke sekolah, tiap hari aku pergi ke Perpustakaan Umum kota, sampai waktu, di mana sekolah lain usai dan murid-muridnya pulang.
                Di  Perpustakaan umum itulah kakak mengenal puisi-puisi Acep zamzam noor, cerpen Joni ariadinata, novel Dewi Lestari, Asma nadia, Hamka, Chairil anwar, bahkan Fredy siswanto! Waktu kelas Tiga Mts. Itu kakak menulis puisi, judulnya Khusnul Khotimah, yang tidak jadi kakak kirim ke Mading Masjid agung Kota Sukabumi karena Madingnya tidak pernah terbit lagi, lalu kakak simpan baik-baik di buku harian.
Khusnul Khotimah

Tertidur,
tidurlah ia
pulas mimpi ruh jiwa
selepas sembahyang malam
suci abadi

Ah, betapa nikmat
tubuh terbaring di surau kecil
tiada menghirau irama dunia

Selepas sembahyang malam ia
pulas mimpi ruh jiwa
suci abadi

Tergolek ia di sajadah lusuh
betapa nikmat
tiada menghirau lalu lalang orang bersujud
tiada pula seonggok hati berani menjamah

Melayang-layanglah ia
di apit dua malaikat
dengan tiada menghirau irama dunia

sukabumi, 2003
                Kakak tidak pernah mengira, sejak Pak Cevi meminjami novel Dokter Widi, kata-kata terus mengikuti ke mana pun langkah kaki pergi. Bahkan ketika kakak lulus dari sekolah aneh itu dan harus pergi dari rumah lalu tinggal di rumah nenek.
                Apakah engkau tahu, saat anak-anak lain meneruskan pendidikan ke SMA, kakakmu jualan asongan di pasar? Ya engkau tahu. Di mana pun aku selalu menulis dik, di sudut-sudut gang kumuh, di antara gemuruh kendaraan dan debu beterbangan, kakak menulis di atas kertas timah pembungkus rokok, yang isinya sudah habis di jual. Kadang kakak menulis di atas kayu milik penjual ketupat sayur, kadang di emperan toko, kadang di rel kereta api.  Tapi kakak tetap yakin suatu saat bisa bertemu Acep zamzam noor, bisa memiliki trofi, bisa sekolah lagi.

Ah tahukah kamu dik, berkat keyakinan itu satu-satu mimpi kakak terwujud. Kakak bisa sekolah di SMA terbuka, puisi yang tidak jadi kakak kirim ke Mading itu jadi juara pertama lomba membuat puisi antar pelajar se-kota Sukabumi, meski trofinya tidak pernah bisa hadir ke rumah, waktu itu kakak merasa tidak memiliki rumah, trofi itu kakak titipkan ke sekolah. Kakak pun bersyukur dapat mengenal sahabat-sahabat yang baik di Forum Lingkar Pena dan Komunitas Sastra Cianjur. Ya, di cianjur ini kakak dapat bersua dengan Acep zamzam noor, penyair yang dulu hanya kakak baca sajak-sajaknya di buku!
               
Pada mulanya adalah tangis

Ah Dik, kakak baru kemarin belajar internet, mengetik di komputer, menulis di blog dan catatan facebook, sesekali mengikuti berbagai lomba menulis, sesekali mengirim karya ke media cetak, meski tidak pernah di muat, sebelumnya kakak banyak menulis di buku harian, kakak memang tidak seberuntung dirimu yang banyak belajar berbagai hal di sekolah! Hal yang paling membuat bangga kakak adalah ketika Ibu Hanna fransiska menumumkan pemenang lomba menulis puisi tentang ibu, di mana nama kakak muncul sebagai 10 nomine, berdampingan dengan penyair yang kakak kagumi selama ini, ada M Aan Mansyur, faisal syahreza, Sunlie Thomas Alexander, Pringadi abdi surya, Dian aza, isbedy setiawan zs, dua jurinya antara lain, Acep zamzam noor dan Joni ariadinata.

Tapi adik, tidak semua orang menyukai apa yang kita tulis, airmata di atas kertas bisa membuat orang lain berang, seseorang bisa di culik, di penjara, di perkosa, di bunuh, di racun hanya karena apa yang tertuang dari pikirannya.  Seperti ibu tiri kakak, ibumu, yang menemukan buku harian berisi curahan hati kakak, kemudian dengan tulisan itu beliau mengusir kakak dari rumah. Itu terjadi selepas kakak lulus Madrasah Tsanawiyah.
                Adik, engkau saudari terbaikku. Meski kita tidak lahir dari satu rahim, hanya bapak kita yang sama, namun bagaimana pun kakakmu ini sangat menyayangimu.

Jika menulis adalah bulir-bulir tangis, barangkali sekarang ia sudah menganak sungai, terus mengalir ke tempat jauh.

Cianjur 2011

Senin, 24 Januari 2011

Lelaki Rumput

Perlahan Rumput membuka matanya, menatap lurus ke langit-langit, beradu pandang dengan kertas-kertas yang bergelantungan, kertas-kertas berisi puisi-puisi pujangga besar yang ia gunting dari surat kabar kemudian ia gantung dengan sehelai benang; Garzia lorca, Whitman, Rilke, Neruda, Rendra, Widji Thukul, seolah sedang mengedipkan mata, mengucapkan salam selamat pagi padanya.

\\ Di sini, panas kian meninggi, sunyiku menguat dan bergelora\ sunyi dengan putaran yang menyerupai gerakan tangan lelaki tenggelam// (Pablo Neruda-bersandar pada rembang petang)

Semuanya masih sama seperti sebelum ia terjaga; Koran-koran bekas, bantal, buku, majalah, bungkus permen, sachet losion anti nyamuk, pensil, pakaian, topi, gelas, push pins, botol larutan penyegar, gelang-gelang… berserakan tak karuan di atas tempat tidurnya, menjadi seprai temani ia lelap.  Di sudut tempat tidur, sebatang lilin masih berdiri beralaskan piring, ujungnya terlihat menghitam.
            Di atas tempat tidur yang berantakan itulah semalam Rumput merayakan hari jadinya yang ke 24, seorang diri, tanpa kue, balon dan pita-pita. Hanya sebatang lilin itu, yang ia nyalakan menjelang jarum jam menyentuh angka dua belas, lalu ia pun meniup sebatang lilin setelah sebelumnya merapalkan doa-doa dalam hati.
            Ia tidak tahu apa yang berbeda dari Rumput yang berusia 24 dengan Rumput yang sebelumnya. Rasanya semua masih sama; kamar tidurnya masih berantakan, jiwanya tetap kenakak-kanakan, yang paling penting, semakin bertambahnya usia, ia semakin kesepian.
            Kemana teman-temanku pergi? Kenapa tidak ada seorang pun dari mereka yang ingat tanggal kelahiranku? Bisik Rumput dalam hati.
            Teman-teman lama sudah hilang entah ke mana, Rumput tidak bisa menemukan jejak mereka. Teman-teman baru begitu sulit di peroleh. Lagi pula semua orang sudah sangat sibuk, tidak mempunyai waktu lagi untuk sebatang Rumput liar yang diam-diam menimbun angan, kenangan, kesepian.
            Satu atau dua teman kadang berkunjung ke rumahnya, ada juga satu atau dua teman yang mengirim pesan singkat berisi basa-basi,  satu atau dua teman juga ada yang suka mengomentari sattusnya di dunia maya, bahkan, ada juga satu atau dua teman yang sekonyong-konyong masuk ke alam bawah sadarnya, memporak-porandakan mimpi indahnya, mengejar-ngejarnya, membuatnya terperosok ke dasar ngarai, terjerembab di atas aspal, berputar-putar dalam labirin, membuat Rumput nyaris mati di mimpinya sendiri!
            Sebenarnya Rumput hanya kangen sama teman-temannya..
            Rumput bangkit. Hari masih gelap. Matanya belum mampu melihat keadaan di luar jendela. Hanya aroma apak dari pakaian dan celananya yang sudah lebih tujuh hari tidak di cuci, tercium sangat pekat di hidung. Rumput berdiri, berjalan ke arah dinding. Di sana menempel kenangannya bersama teman-temannya. Waktu liburan ke kebun binatang, photo saat ke pantai, saat naik gunung, semua terabadikan.
            Satu-satu wajah di photo yang menempel di dinding seolah berbicara padanya, mengucapkan selamat ulang tahun. Arman, si bocah petualang, di photo Nampak sedang menggendong ransel besar pada pundaknya, tertawa padanya, Arman, aku kangen naik gunung!!. Lalu Yusuf, temannya waktu SMP, yang dulu sering mengajarinya sepak bola, “Payah! Masa laki-laki tidak bisa main bola!” kata Yusuf pada Rumput dulu. Ada juga Abi, yang merasa jika Rumput adalah saudara kembarnya, karena sama-sama anak bungsu, sama-sama pendiam, berkulit sawo matang, tidak suka merokok, sama–sama tidak punya pacar! Beberapa orang temannya nampak melambaikan tangan padanya, memamerkan senyum lebar.
            Kalian yang terbaik, kata Rumput dalam hati.
            Rumput tidak pandai bergaul, ia sedikit sekali memiliki teman, karena itu wajar jika ia kesepian. Di tempat tinggalnya sekarang,  orang yang ia kenal hanya ibu pemilik warteg di depan rumah, beberapa tukang ojeg di belokan gang, dan tukang bakso langganananya.
            Ia tidak tahu siapa tetangganya, siapa nama mereka, apa kegiatan mereka. Jika tidak ada orang lain yang lebih dulu bertanya padanya, tidak mungkin Rumput akan bersuara. Penyebabnya mungkin adalah rasa rendah dirinya yang berlebihan karena Rumput pernah merasakan sebuah trauma pada persahabatan.
            Ceritanya, waktu itu Rumput memberanikan diri berkenalan dengan anak-anak di komplek,  belum satu hari masa perkenalan, Rumput sudah dipermalukan, katanya, ia harus memenuhi persyaratan terlebih dulu kalau mau bergabung dengan mereka, seperti, harus punya motor, berpenampilan rapi, sholeh, harus berpendidikan, harus punya rumah keren buat basecamp, punya tropi kebanggaan dan bla bla bla..penampilannya memang seperti seorang gembel, tapi bukankah ia tetap saja seorang manusia, yang sama makan nasi seperti mereka, ia pikir, mungkin orang-orang itu jadi sombong karena makanan yang mereka makan tiap harinya adalah  emas atau perak, atau besi!
            Rumput menghela napas, ia tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Semua temannya tidak seperti itu, semua temannya orang baik, menerima ia apa adanya, Rumput yang kadang aneh, usil, kampungan, bodoh. Semua temannya selalu menyemangati Rumput  bahwa ia mampu menjadi penulis hebat. Selalu menyempatkan waktu guna membaca tulisan-tulisannya yang tidak seberapa.
            Di usia 24 ini, mestinya aku sudah meraih penghargaan Khatulistiwa literary award, atau anugerah pena kencana, atau penghargaan dari IKAPI sebagai penulis terbaik atas karyanya yang monumental dan best seller! Batin Rumput. Akan tetapi, pada kenyataanya, satu puisi pun belum pernah ia kirim ke media massa, satu cerpen pun belum ia bukukan. Tiap hari hanya berkhayal, berangan.
            Ia tidak tahu apakah Tuhan sudah mempersiapkan satu buah kejutan untuknya atau tidak di hari esok. Ia berharap ada.
Teman-teman, kalian memiliki kejutankah buatku? Telpon kejutan, kue kejutan, doa kejutan? Rumput membayangkan, teman-temannya akan berseru begitu ia membuka pintu,    “SURPRISE!” lalu akan nada telur mentah mendarat di rambutnya, atau seember air membasahi badannya.  Ada Arman yang tiba-tiba mengajakanya mendaki gunung, ada yusuf yang tiba-tiba datang mengajaknya ke lapang, ada Abi yang tiba-tiba membawakannya buku bacaan…
            Teman-teman, kalian ke mana.. ? di sini ia sendiri. Sebatang kara.
            Rumput turun dari tempat tidur. Kakinya terasa sangat lemah begitu menginjak lantai. Ia tidak dapat menopang berat badannya sendiri. Dengan hati-hati pintu kamar ia buka, tidak ada siapa-siapa, langkahnya kaku, tungkai kakinya bergetar, batuknya terdengar.
            Kulit sawo matangnya menjadi kerat-kerut, wajahnya mengeriput. Udara pagi mengecat rambut di kepalanya menjadi berwarna putih. Dari arah pintu depan seorang perempuan berseru.
            “Kakek, ada tamu..” pintu depan terbuka, perempuan yang memanggilnya kakek menyilakan seseorang masuk.
“Rumput, my friend, apa kabarmu? “ suara itu, wajah itu, sepertinya ia mengenalnya. “Selamat ulang tahun, maaf baru sempat berkunjung, bagaimana kabar novel barumu? Kapan lounching? Oh iya, aku membawakan hadiah buatmu Rumput, ini, pena dan buku kecil, biar kamu tetap semangat nulis, ya sekarang pena dan buku sudah menjadi barang antik, aku mendapatinya waktu berkunjung ke museum.” Arman, ia Arman, teman Karib Rumput! Rambut di kepala Arman sudah sama-sama putih sepertinya, juga suaranya, tidak jernih seperti dulu.
Rumput meraih kado dari tangan Arman, ada tulisan indah terangkai di depannya, selamat ulang tahun, di usia 84 ini semoga bahagia selalu…
            Saat ini ia hanya ingin memeluk sahabatnya, untuk kejutan paling  indah di saat rembang petang datang.

                     Cianjur 2010

Jumat, 03 Desember 2010

Balonku Ada Lima

Dudi ingin sekali memiliki balon warna-warni seperti yang baru saja dibeli Moli, temannya. Saat penjual balon gas tiba di tempat Dudi biasa bermain, Dudi hanya bisa menatap kagum pada bebalon yang menggelembung, ringan. Jemarinya yang mungil mencoba menyentuh permukaan balon yang licin. Terasa sangat menggemaskan.
            Aku ingin membeli balon yang berwarna kuning, warna merah juga, hijau juga, tapi aku lebih ingin membeli balon yang berwarna biru, agar ketika balonnya aku lepas ke angkasa, balon itu bisa sewarna dengan langit cerah. Kata Dudi dalam hati.
            Moli, yang baru saja membeli balon berwarna hijau nampak sedang memamerkan balonnya di hadapan Dudi.
            “Dengan mengunakan benang yang biasa aku pakai untuk menerbangkan layang-layang, aku bisa menerbangkan balon ini melebihi tinggi pohon kelapa. Kalau talinya putus dan aku kehilangan balonku, aku tinggal bilang saja pada ibu,  pasti aku bisa beli lagi balon gas yang baru,” kata Moli seraya beranjak meninggalkan Dudi yang masih terpaku di samping penjual balon warna-warni.
            Setelah Moli berada cukup jauh darinya, Dudi mengambil kerikil yang banyak bertebaran di bawah kaki. Ia lemparkan kerikil itu ke arah balon gas milik Moli. Tepat mengenai sasaran. Balon meledak. Moli berteriak, menangis. Dudi berlari meninggalkan tempat itu.
                                        ***

            Di rumah, ia temui ibunya yang sedang memasak sayur kangkung, kedua adiknya duduk di sebelah ibunya dengan memegang piring kaleng.
            Ibu, aku ingin beli balon gas warna-warni kata Dudi dalam hati, ia tidak berani mengutarakan keinginannya.
            Setelah sayur kangkung yang sudah ditunggu adik-adiknya matang, Dudi berlari ke luar, sayur kangkung yang dimasak ibunya tidak akan cukup mengenyangkan perut mereka, keberadaannya di rumah hanya akan membuat adik-adiknya merasa lapar.
            Dudi  berlari menuju rumah tetangganya, mengorek-ngorek sesuatu di tong sampah. Meskipun rumah tetangganya tidak jauh beda dengan rumahnya yang sempit, tapi tiap malam tetangganya itu sering menerima tamu laki-laki gagah dari kota, Dudi berharap bisa menemukan sesuatu untuk ia makan di sana.
            Balon…kata Dudi, jemarinya menemukan sesuatu yang serupa balon di tempat sampah tetangganya, warna-warni dan beraroma buah. Dudi pun mencoba meniup benda berlendir itu, hingga menjadi sebuah balon yang unik, jauh lebih bagus dari balon yang di beli Moli. Jumlahnya lima.
            Kini Dudi mempunyai lima buah balon warna-warni seperti yang ia ingini. Ia berikan dua buah balon kepada adiknya, sisanya ia pakai bermain sendiri.

            Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya..

cianjur 2010

Senin, 22 November 2010

W. Somerset Maugham (1874 – 1965)






Christmas Day in the Morning By Pearl S. Buck

He woke suddenly and completely. It was four o'clock, the hour at which his father had always called him to get up and help with the milking. Strange how the habits of his youth clung to him still! Fifty years ago, and his father had been dead for thirty years, and yet he waked at four o'clock in the morning. He had trained himself to turn over and go to sleep, but this morning it was Christmas, he did not try to sleep.

Why did he feel so awake tonight? He slipped back in time, as he did so easily nowadays. He was fifteen years old and still on his father's farm. He loved his father. He had not known it until one day a few days before Christmas, when he had overheard what his father was saying to his mother.

"Mary, I hate to call Rob in the mornings. He's growing so fast and he needs his sleep. If you could see how he sleeps when I go in to wake him up! I wish I could manage alone."
"Well, you can't, Adam." His mother's voice was brisk. "Besides, he isn't a child anymore. It's time he tok his turn."

"Yes," his father said slowly. "But I sure do hate to wake him."

When he heard these words, something in him spoke: his father loved him! He had never thought of that before, taking for granted the tie of their blood. Neither his father nor his mother talked about loving their children--they had no time for such things. There was always so much to do on the farm.

Now that he knew his father loved him, there would be no loitering in the mornings and having to be called again. He got up after that, stumbling blindly in his sleep, and pulled on his clothes, his eyes shut, but he got up.

And then on the night before Christmas, that year when he was fifteen, he lay for a few minutes thinking about the next day. They were poor, and most of the excitement was in the turkey they had raised themselves and mince pies his mother made. His sisters sewed presents and his mother and father always bought him something he needed, not only a warm jacket, maybe, but something more, such as a book. And he saved and bought them each something, too.

He wished, that Christmas when he was fifteen, he had a better present for his father. As usual he had gone to the ten-cent store and bought a tie. It had semed nice enough until he lay thinking the night before Christmas. He looked out of his attic window, the stars were bright.

"Dad," he had once asked when he was a little boy, "What is a stable?"

"It's just a barn," his father had replied, "like ours."

Then Jesus had been born in a barn, and to a barn the shepherds had come...

The thought struck him like a silver dagger. Why should he not give his father a special gift too, out there in the barn? He could get up early, earlier than four o'clock, and he could creep into the barn and get all the milking done. He'd do it alone, milk and clean up, and then when his father went in to start the milking he'd see it all done. And he would know who had done it. He laughed to himself as he gazed at the stars. It was what he would do, and he musn't sleep too sound.

He must have waked twenty times, scratching a match to look each time to look at his old watch -- midnight, and half past one, and then two o'clock.

At a quarter to three he got up and put on his clothes. He crept downstairs, careful of the creaky boards, and let himself out. The cows looked at him, sleepy and surprised. It was early for them, too.

He had never milked all alone before, but it seemed almost easy. He kept thinking about his father's surprise. His father would come in and get him, saying that he would get things started while Rob was getting dressed. He'd go to the barn, open the door, and then he'd go get the two big empty milk cans. But they wouldn't be waiting or empty, they'd be standing in the milk-house, filled.

"What the--," he could hear his father exclaiming.

He smiled and milked steadily, two strong streams rushing into the pail, frothing and fragrant.

The task went more easily than he had ever known it to go before. Milking for once was not a chore. It was something else, a gift to his father who loved him. He finished, the two milk cans were full, and he covered them and closed the milk-house door carefully, making sure of the latch.

Back in his room he had only a minute to pull off his clothes in the darkness and jump into bed, for he heard his father up. He put the covers over his head to silence his quick breathing. The door opened.

"Rob!" His father called. "We have to get up, son, even if it is Christmas."

"Aw-right," he said sleepily.

The door closed and he lay still, laughing to himself. In just a few minutes his father would know. His dancing heart was ready to jump from his body.

The minutes were endless -- ten, fifteen, he did not know how many -- and he heard his father's footsteps again. The door opened and he lay still.

"Rob!"

"Yes, Dad--"

His father was laughing, a queer sobbing sort of laugh.

"Thought you'd fool me, did you?" His father was standing by his bed, feeling for him, pulling away the cover.

"It's for Christmas, Dad!"

He found his father and clutched him in a great hug. He felt his father's arms go around him. It was dark and they could not see each other's faces.

"Son, I thank you. Nobody ever did a nicer thing--"

"Oh, Dad, I want you to know -- I do want to be god!" The words broke from him of their own will. He did not know what to say. His heart was bursting with love.

He got up and pulled on his clothes again and they went down to the Christmas tree. Oh what a Christmas, and how his heart had nearly burst again with shyness and pride as his father told his mother and made the younger children listen about how he, Rob, had got up all by himself.

"The best Christmas gift I ever had, and I'll remember it, son every year on Christmas morning, so long as I live."

They had both remembered it, and now that his father was dead, he remembered it alone: that blessed Christmas dawn when, alone with the cows in the barn, he had made his first gift of true love.

This Christmas he wanted to write a card to his wife and tell her how much he loved her, it had been a long time since he had really told her, although he loved her in a very special way, much more than he ever had when they were young. He had been fortunate that she had loved him. Ah, that was the true joy of life, the ability to love. Love was still alive in him, it still was.

It occured to him suddenly that it was alive because long ago it had been born in him when he knew his father loved him. That was it: Love alone could awaken lovve. And he ccould give the gift again and again.This morning, this blessed Christmas morning, he would give it to his beloved wife. He could write it down in a letter for her to read and keep forever. He went to his desk and began his love letter to his wife: My dearest love...

Such a happy, happy Christmas!





THE END













 

Masa-Masa Sekolah

Hanya enam orang, itulah temanku yang bersisa waktu kelas tiga Mts. sayang, sayang banget photo2 dan tulisan temanku waktu SD menghilang, hmm beginilah nasib seorang nomaden :) Oh ya kalau di Mts kami hanya berenam, di SD teman sekelasku hanya Empat orang!!


Robby F.a.

Jeni budiman

Ahmad sobur

euis 

Apriani
khoer jurzani


Aku Dari Waktu Ke Waktu