Senin, 22 November 2010

Cerpen Godi Suwarna Di majalah Mangle Tahun 1970-an

Hmm, bagaimana jadinya kalau Sangkuriang bertemu dengan Oidipus? Godi Suwarna, dalam cerpen Kalangkang Budah, menjawabnya. Saya memperoleh cerpen ini di majalah mangle tahun 70-an, tidak sengaja nemu di gudang penampungan barang bekas tempat saya bekerja ^^




Kamis, 04 November 2010

My Ebook


Sedotan Bening, 23 cerita kecil, di usia 23.. Bukunya imut sekali, tidak lebih dari 50 halaman, cerita-cerita dalam buku ini kebanyakan bernuansa sosial dan keluarga, ebooknya bisa dibaca di:
 

http://evolitera.co....id/themes/main/product.php?product_id=446&language=en

Jumat, 15 Oktober 2010

Buku Yang Memuat Cerpen Aku



Beberapa waktu kemarin sempat ikutan lomba nulis cerpen di Group Untuk Sahabat (UNSA) Alhamdulilah masuk 10 besar, judul cerpennya Sahabat Kaliandra, kini semua naskah yang masuk nominasi itu sudah bisa dinikmati dalam bentuk buku, inilah, sebuah kolaborasi antara senior (penulis profesional) dengan pemula seperti aku ini. 

Buat aku yang menulis hanya untuk senang-senang, curhat, terus setelah selesai nulis biasanya di kasih ke teman atau di simpan di note dan blog, tidak terbayangkan deh punya buku, sudah ada yang baca tulisanku pun aku sudah senang, meski pun di dalam hati memang pengen banget jadi penulis handal seperti Andrea Hirata atau Linda Christanty atau Seno Gumira Ajidarma hoho..

Meski akhir-akhir ini banyak kesempatan yang terlewatkan, seperti beberapa lomba menulis, proyek nulis dari FLP dan proyek pribadi pun sampai sekarang tidak pernah kelar!

Meski begitu, kemarin aku sudah coba kirim cerpen ke Horison, baik yang online dan cetaknya (Hehe nekat.com) terus ada undangan bikin puisi juga dari seorang penyair yang sudah malang melintang di dunia sastra nasional untuk di masukan dalam jurnal sastra yang akan terbit kemudian. 

Dewan Kesenian Cianjur pun sebentar lagi akan menerbitkan antologi cerpen bertemakan teroris, dua cerpenku ada di sana.

Belakangan ini waktuku terkuras oleh kerja, dari jam tujuh pagi sampai maghrib beres-beres di gudang, menjelang malam ke warnet, buat refreshing, nulis-nulis nggak jelas kayak gini hehe, tapi waktuku di luar dibatasi ampe jam sembilan malam, selepas itu, jangan harap bisa masuk ke gudang! Karena gudang akan di kunci dari dalam.

Sampai akhir bulan ini aku sedang ngerjain novelet, judulnya Tragedi Sepotong Hati, bisa di baca di note aku tiap malam.

Ya, setidaknya impianku untuk menyumbang buku ke perpustakaan umum kota bisa terlaksana ^^
Salam hangat 

Senin, 11 Oktober 2010

Tali Rafia Pita

Pita senang memunguti tali rapia yang berserakan di antara kerumunan lalat hijau yang merubungi tumpukan karung di sekitar rumahnya. Dengan kantong kresek berwarna merah, ia meraih satu-satu tali rapia yang terbaring di tanah, barangkali ia lelah, kata Pita, apakah ibu pun sama lelahnya dengan tali rapia? Sebab, setelah bapak memukul ibu dengan tinjunya malam itu, ibu selalu terbaring di lantai, tidak pernah bangun..

Pita memasukan tali rapia itu ke dalam kantong kresek, di dalam sana, tali rapia tadi berkumpul dengan warnawarni tali rapia yang Pita kumpulkan selama berhari-hari.

Pita menghabiskan waktunya seharian untuk mencari tali rapia. Rumahnya yang mungil sudah tidak kelihatan, terhalangi tumpukan karung yang menggunung. Pita tidak takut tersesat, meski aroma rumahnya tidak berbeda dengan aroma tumpukan karung yang biasa ia cium. Pita sudah hapal betul kemana ia harus berjalan untuk pulang.

Di bawah sebuah tiang Pita berdiri. Meraih tali rapia di dalam kantong kresek merahnya, membelah tali rapia menjadi dua bagian lalu mengikat rambutnya dengan tali rapia itu.

Tiang ini terlalu tinggi, aku terlalu pendek.. kata Pita, ia pun kembali ke rumahnya. Kakinya yang kecil melewati tubuh seorang perempuan yang teronggok di lantai, aku juga lelah ibu, kata Pita. Ia pun mengikatkan lehernya ke dalam tali rapia,
kursi yang ia gunakan untuk naik ke atas tiang penyangga jatuh. Tubuh Pita terayun lembut, lalu lemah.

cianjur 2010

Sabtu, 02 Oktober 2010

Perangkai Bunga



Semua tentang impian, harapan, kebodohan

Pria itu menjelma seekor kupu-kupu manakala tiba di sebuah ruang beraroma bunga segar. Ia tahu bagaimana memperlakukan sekuntum bunga, maka ia pun mulia merangkai. Lalu, huup! Jadilah rangkaian bunga yang disusun berbentuk gapura di atas wadah yang terbuat dari kayu manis. Anggrek bulan ia susun, di bawahnya ia simpan baut dan mur-mur lucu juga sekantong bubuk mesiu. Ia tersenyum. Rangkaian bunga siap dikirim ke kamar calon pengantin.

Pria itu berjalan membelah kerumunan karyaman hotel. Tidak ada yang menaruh curiga, toh ia hanya kupu-kupu yang biasa hilir mudik di hotel itu.

***
Kota metropolitan sedang berjemur di bawah sinar matahari, membuat kepalanya seperti tersengat ribuan cahaya. Ia benci kota ini. Ia bermimpi dapat memusnahkan sebagian budak setan yang mendiami kota.

Kamar 2020 adalah ruangan khusus bagi calon pengantin semesta, tiap hari ia masuk, menemui pemuda tanggung bernyali besar. Ia berikan rangkaian bunga, mengemas adonan cinta.
Ia tanam pohon bunga di kamar itu!

***
Belerang, arang, potassium nitrat, ia rangkai menjadi kuntum-kuntum cinta bersama sang pengantin. Tidak ada anggrek bulan, krisan atau mawar.

Do not disturb tanda itu terpasang di depan pintu kamar. Tidak ada seorang petugas keamanan pun yang curiga, sudah kubilang, ia adalah kupu-kupu, siapa yang peduli pada kupu-kupu?
***
Kotak-kotak bunga telah habis ia kirim. Tinggal menunggu pengunjung terjaga dan berkumpul di lobi hotel.

“Tuhan telah memilihmu untuk menunaikan tugas suci ini nak, berbahagialah. Para bidadari surga sudah menunggumu di atas sana,” katanya kepada calon pengantin.

Satu menit, dua menit, lima belas menit, tiga puluh menit…

Ketika pria itu sudah memasuki mobilnya, ledakan besar terjadi, mengguncang tanah metropolitan yang resah. Bibirnya menyunggingkan senyum. Pengantinnya sudah selesai menjalankan tugasnya dengan baik.

Pria itu menanggalkan sayap kupu-kupunya, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju calon pengantin di tempat lain.

Ia tidak tahu saat pengantin semestanya hendak menemui bidadari surga yang dijanjikan, para bidadari surga serta merta menolak kehadirannya, mereka tidak sudi bertemu dengan lelaki yang memercikan bunga api di tanah airnya sendiri.

Cianjur 2010

Senin, 27 September 2010

Karikatur

Koran Kompas, Minggu 10 Januari 2010

Biasanya aku malas lihat karikatur, di kompas hari minggu paling baca rubrik sastra, Film, sesekali baca Parodi, tapi hari itu aku betul-betul ngakak, lihat karikatur di kompas yang menggelikan sekali, ingat tingkah polah teman-teman di facebook dan saya sendiri yang menggelikan, mau melakukan apa pun juga, pasti di update di FB, mau makan, tidur, buang air.. hehee.. kalo ingat karikatur ini, saya bisa ketawa-ketawa sendiri kayak orang stress! Met ketawa, tapi jangan lama-lama yua ^^

Selabintana-Pondok Halimun